Malaria Tropika adalah penyakit malaria yang
disebabkan oleh plasmodium falcifarum. Plasmodium ini bisa ditemukan
melalui hapusan darah yang dikeringkan, diwarnai dan dilihat serta
dihitung lewat miskroskop. Cara yang lain adalah dengan rapid test ICT
malaria dimana hasil dapat dilihat dalam 3 – 5 menit, namun tidak mampu
melihat jumlah parasite dalam darah.
Pasien dengan Malaria Tropika akan sangat
rentan kekurangan cairan karena mual dan muntah yang sering, Rasa mual
ini timbul karena demam dan juga nyeri ulu hati. Perawatan yang harus
diberikan adalah edukasi untuk sebanyak mungkin mengkonsumsi air minum.
Indikator kurangnya asupan cairan bisa dilihat dari warna air kencing
yang bisa menjadi sangat keruh hingga merah yang dikenal dengan istilah
“Black Water Fever”. Bila ini terjadi sudah bisa dipastikan bahwa fungsi
ginjal mengalami kerusakan dan harus diperiksakan fungsinya sekaligus
juga fungsi hati. Memasang jalur intravena untuk cairan adalah cara yang
tepat dan suatu keharusan untuk malaria dengan hiperparasitemia.
Anjurkan pasien bila masih dalam kondisi yang cukup baik, untuk
menampung air kencingnya, observasi jumlah produksi cairannya setiap 6
jam setiap hari, observasi pula warna kencingnya, jernih atau tidak.
Bila memang tidak memungkinkan pasanglah urine catheter.
Terapi pengobatan malaria ini harus
dipastikan sesuai jadwal yang telah ditentukan, bila memang tidak bisa
dengan obat oral konsulkan dengan dokter untuk pertimbangan injeksi.
Plasmodium malaria bisa resisten terhadap obat yang sama bila pengobatan
tidak dituntaskan. Edukasi sangatlah penting untuk mencegah hal ini
terjadi, dengan pengobatan yang tuntas, seseorang secara teori tidak
akan terkena malaria tropika lagi kecuali digigit lagi oleh nyamuk
anopheles.
Penulis sendiri memiliki pengalaman bekerja
di daerah yang dekat sekali dengan daerah endemis malaria, yaitu Timika –
Papua. Rata – rata penduduk yang tinggal bermalam di daerah Timika
pernah mendapatkan malaria, karena daerah ini memang masih daerah baru
yang dikelilingi oleh hutan dengan iklim tropis yang panas dan curah
hujan tinggi. Kasus malaria sangat sering ditemui sehari – hari, dalam
mengatasi hal ini setiap pasien yang berobat selain diberikan pengobatan
juga diberikan edukasi untuk pencegahan tergigit nyamuk malaria.
Pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan
memakai repellant, menggunakan sekat kelambu pada rumah, menggunakan
lengan panjang bila keluar di malam hari, menguras tempat – tempat
penampungan air secara teratur dan membuang sampah – sampah/menimbunnya
yang dapat menjadi sarang nyamuk. Timika sendiri adalah daerah yang
berkembang pesat karena adanya aktivitas pertambangan emas di Papua oleh
PT. Freeport. Pihak PT. Freeport pun menyediakan fasilitas pengobatan
khusus untuk malaria dan penyakit menular lainnya melalui departemen
yang disebut PHMC : Public Health and Malaria Control. Didalam malaria
control dept. masalah tentang nyamuk dipelajari dalam bagian entomologi.
Tindakan yang sering dilakukan adalah fogging, abatisasi ke parit –
parit atau tempat potensi sarang nyamuk anopheles, survey jumlah pasien
dan prevalensi penyebaran kasus malaria. Saran penulis adalah bila anda
terkena malaria di daerah Timika, segera berobatlah ke rumah sakit atau
klinik terdekat, karena setiap daerah memiliki jenis plasmodium dan
tingkat resistensi terhadap obat yang berbeda. Banyak kasus setelah
pulang ke luar pulau, mereka tidak mendapatkan obat yang sesuai untuk
malaria ini. Hal ini disebabkan karena seringkali daerah tersebut sudah
bukan daerah endemis malaria sehingga kasus malaria jarang ditemui dan
dengan demikian obat malaria pun jarang tersedia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar