Enjoy Reading My Blog ^^








Senin, 03 Oktober 2011

Malaria Tropika

Malaria Tropika adalah penyakit malaria yang disebabkan oleh plasmodium falcifarum. Plasmodium ini bisa ditemukan melalui hapusan darah yang dikeringkan, diwarnai dan dilihat serta dihitung lewat miskroskop. Cara yang lain adalah dengan rapid test ICT malaria dimana hasil dapat dilihat dalam 3 – 5 menit, namun tidak mampu melihat jumlah parasite dalam darah.
http://www.uni-tuebingen.de/modeling/images/malaria_LifeCycle.gifPenyakit malaria ini khas ditandai dengan nyeri kepala yang hebat dengan suhu badan yang sangat tinggi 390 C – 420 C, untuk gejala menggigil lebih tampak pada malaria tertiana (plasmodium vivax). Hal ini menyebabkan penderita bisa mengalami tingkat kesadaran delirium, dimana pasien kadang akan mengalami kesulitan dalam orientasi, dan terkadang halusinasi. Plasmodium falcifarum ini bisa menyerang saraf – saraf ke otak dan menyebabkan komplikasi yang dinamakan “Malaria Cerebral”, dimana pasien akan mengalami perubahan tingkah laku hingga hilang kewarasannya, gila red. Bila hal ini terjadi pastikan lingkungan perawatan aman dan pakaikan “restriction stripe” bila memang pasien tidak bisa terkontrol tingkah lakunya.

Pasien dengan Malaria Tropika akan sangat rentan kekurangan cairan karena mual dan muntah yang sering, Rasa mual ini timbul karena demam dan juga nyeri ulu hati. Perawatan yang harus diberikan adalah edukasi untuk sebanyak mungkin mengkonsumsi air minum. Indikator kurangnya asupan cairan bisa dilihat dari warna air kencing yang bisa menjadi sangat keruh hingga merah yang dikenal dengan istilah “Black Water Fever”. Bila ini terjadi sudah bisa dipastikan bahwa fungsi ginjal mengalami kerusakan dan harus diperiksakan fungsinya sekaligus juga fungsi hati. Memasang jalur intravena untuk cairan adalah cara yang tepat dan suatu keharusan untuk malaria dengan hiperparasitemia. Anjurkan pasien bila masih dalam kondisi yang cukup baik, untuk menampung air kencingnya, observasi jumlah produksi cairannya setiap 6 jam setiap hari, observasi pula warna kencingnya, jernih atau tidak. Bila memang tidak memungkinkan pasanglah urine catheter.
Terapi pengobatan malaria ini harus dipastikan sesuai jadwal yang telah ditentukan, bila memang tidak bisa dengan obat oral konsulkan dengan dokter untuk pertimbangan injeksi. Plasmodium malaria bisa resisten terhadap obat yang sama bila pengobatan tidak dituntaskan. Edukasi sangatlah penting untuk mencegah hal ini terjadi, dengan pengobatan yang tuntas, seseorang secara teori tidak akan terkena malaria tropika lagi kecuali digigit lagi oleh nyamuk anopheles.
Penulis sendiri memiliki pengalaman bekerja di daerah yang dekat sekali dengan daerah endemis malaria, yaitu Timika – Papua. Rata – rata penduduk yang tinggal bermalam di daerah Timika pernah mendapatkan malaria, karena daerah ini memang masih daerah baru yang dikelilingi oleh hutan dengan iklim tropis yang panas dan curah hujan tinggi. Kasus malaria sangat sering ditemui sehari – hari, dalam mengatasi hal ini setiap pasien yang berobat selain diberikan pengobatan juga diberikan edukasi untuk pencegahan tergigit nyamuk malaria.
Pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan memakai repellant, menggunakan sekat kelambu pada rumah, menggunakan lengan panjang bila keluar di malam hari, menguras tempat – tempat penampungan air secara teratur dan membuang sampah – sampah/menimbunnya yang dapat menjadi sarang nyamuk. Timika sendiri adalah daerah yang berkembang pesat karena adanya aktivitas pertambangan emas di Papua oleh PT. Freeport. Pihak PT. Freeport pun menyediakan fasilitas pengobatan khusus untuk malaria dan penyakit menular lainnya melalui departemen yang disebut PHMC : Public Health and Malaria Control. Didalam malaria control dept. masalah tentang nyamuk dipelajari dalam bagian entomologi. Tindakan yang sering dilakukan adalah fogging, abatisasi ke parit – parit atau tempat potensi sarang nyamuk anopheles, survey jumlah pasien dan prevalensi penyebaran kasus malaria. Saran penulis adalah bila anda terkena malaria di daerah Timika, segera berobatlah ke rumah sakit atau klinik terdekat, karena setiap daerah memiliki jenis plasmodium dan tingkat resistensi terhadap obat yang berbeda. Banyak kasus setelah pulang ke luar pulau, mereka tidak mendapatkan obat yang sesuai untuk malaria ini. Hal ini disebabkan karena seringkali daerah tersebut sudah bukan daerah endemis malaria sehingga kasus malaria jarang ditemui dan dengan demikian obat malaria pun jarang tersedia.

Like the Post? Do share with your Friends.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IconIconIconFollow Me on Pinterest

Blogger news

Blogroll